• Beranda
  • Hitung
  • Info
  • Tentang
Kembali
BerandaHitungInfoTentang

Metodologi Analisis

Ringkasan teknik analisis yang dapat dipakai — SWOT, ACH, Cause & Effect, Stakeholder, Link Analysis, Scenario Planning, dan lainnya — beserta bias kognitif, sesat pikir, dan cara mengevaluasi sumber. Untuk belajar & rujukan cepat.

Teknik analisis terstruktur — kerangka kerja untuk menganalisis masalah. (18)

Analisis SWOT (dan TOWS)SWOT Analysis (and TOWS)

SWOT memetakan empat hal tentang sebuah pihak: Kekuatan (Strengths) dan Kelemahan (Weaknesses) yang berasal dari dalam diri pihak itu, lalu Peluang (Opportunities) dan Ancaman (Threats) yang datang dari luar. Kekuatan dan kelemahan adalah keadaan sekarang yang masih bisa dikendalikan pihak itu sendiri; peluang dan ancaman berada di luar kendalinya. SWOT bukan hasil akhir, tapi bahan awal untuk metode lain (ACH, Sebab-Akibat, Perencanaan Skenario, Analisis Pemangku Kepentingan). Lanjutannya, TOWS, memasangkan keempat daftar tadi untuk menyusun strategi.

Kapan dipakai

Dipakai untuk membuat gambaran cepat tentang kemampuan, keterbatasan, dan kemungkinan suatu pihak, sebagai titik awal sebelum masuk ke metode telaah yang lebih mendalam.

Langkah / Komponen
  1. 1Langkah 1: Tentukan masalahnya dan pihak mana yang akan dianalisis dengan SWOT
  2. 2Langkah 2: Teliti masalahnya; amati keadaan dari dalam dan dari luar; catat informasi yang masih kurang dan dugaan-dugaan penting
  3. 3Langkah 3: Catat Kekuatan dan Kelemahan (dari dalam); lalu Peluang dan Ancaman (dari luar)
  4. 4Langkah 4 (TOWS): Pasangkan keempatnya menjadi strategi SO, ST, WO, WT — termasuk membayangkan strategi pihak lawan
Catatan / Contoh

Tabel 2x2: dari dalam vs dari luar. TOWS menghasilkan empat kotak strategi: SO (pakai kekuatan untuk meraih peluang), ST (pakai kekuatan untuk menghadapi ancaman), WO (perbaiki kelemahan lewat peluang), WT (bertahan: kurangi kelemahan dan jauhi ancaman). Tips: kerjakan dalam kelompok 5-6 orang, tulis yang spesifik, cari sebabnya bukan sekadar cirinya.

Analisis Hipotesis yang Bersaing (ACH)Analysis of Competing Hypotheses (ACH)

ACH adalah cara tertata untuk menimbang semua kemungkinan jawaban (hipotesis) yang masuk akal sekaligus, berdasarkan bukti, sambil mencatat jalan pikirannya supaya bisa ditelusuri kembali. Cara kerjanya khas: cari bukti yang MENGGUGURKAN tiap kemungkinan, bukan bukti yang membenarkan kemungkinan yang kita sukai. Kemungkinan yang paling kuat adalah yang paling sedikit punya bukti penggugur. Alat utamanya adalah tabel yang menyilangkan bukti dengan tiap kemungkinan jawaban.

Kapan dipakai

Dipakai ketika ada beberapa penjelasan yang saling bersaing dan penelaah harus menimbang mana yang lebih mungkin secara cermat dan terbuka, sekaligus melawan kecenderungan hanya mencari bukti yang membenarkan dugaan awal.

Langkah / Komponen
  1. 11. Kumpulkan daftar kemungkinan jawaban lewat curah gagasan (lebih dari tujuh sulit dikelola)
  2. 22. Kumpulkan bukti dan alasan yang mendukung maupun menentang tiap kemungkinan (ketiadaan bukti pun bisa jadi petunjuk)
  3. 33. Buat tabel: kemungkinan jawaban di baris atas, bukti di kolom samping
  4. 44. Rapikan tabel: buang bukti yang tidak membantu membedakan satu kemungkinan dari yang lain
  5. 55. Tarik kesimpulan sementara: cari yang menggugurkan, bukan yang membenarkan
  6. 66. Uji seberapa goyah kesimpulan bila bukti penting ternyata keliru
  7. 77. Laporkan tingkat kemungkinan SEMUA jawaban, bukan hanya satu
  8. 88. Tentukan tanda-tanda yang perlu dipantau ke depan dan susun rencana mengumpulkannya
Catatan / Contoh

Pegangan: GUGURKAN, jangan benarkan. Kemungkinan paling kuat = paling sedikit bukti yang bertentangan dengannya. Tiap kotak diberi nilai: Cocok / Bertentangan / Tidak Berlaku (C/I/NA).

Pemeriksaan Asumsi KunciKey Assumptions Check

Cara tertata untuk memunculkan lalu menguji anggapan-anggapan yang menjadi dasar sebuah kesimpulan. Anggapan kunci adalah anggapan penopang yang, kalau ternyata salah, bisa membalikkan seluruh kesimpulan. Buku panduan mengingatkan bahwa kesimpulan biasanya meleset karena ada anggapan keliru yang tidak pernah dipertanyakan. Cara ini juga membantu agar kita tidak terpaku pada kesan pertama.

Kapan dipakai

Dipakai untuk memisahkan mana yang fakta dan mana yang baru anggapan, menguji anggapan yang ada, dan menemukan informasi penting yang ternyata masih kurang.

Langkah / Komponen
  1. 11. Tinjau kembali masalah Anda
  2. 22. Pisahkan mana anggapan dan mana fakta
  3. 33. Temukan dan daftar anggapan-anggapan kunci
  4. 44. Uji tiap anggapan kunci itu (coba buktikan salah)
  5. 55. Temukan informasi penting yang masih kosong
Catatan / Contoh

Anggapan sering muncul karena fakta, informasi, atau pemahaman yang kurang, atau karena terbawa pengalaman dan kecenderungan pribadi. Contoh anggapan besar: gagasan saling memusnahkan (Mutually Assured Destruction/MAD) pada masa Perang Dingin.

Analisis Sebab-Akibat (Diagram Tulang Ikan/Ishikawa)Cause & Effect Analysis (Fishbone/Ishikawa)

Cara tertata untuk mencari tahu mengapa sesuatu terjadi, dengan menghubungkan sebab ke akibatnya — bukan langsung menyimpulkan bahwa dua hal yang muncul bersamaan pasti saling menyebabkan. Sebab harus terjadi lebih dulu daripada akibat. Penelaah memilah tiga jenis sebab: sebab yang harus ada (tanpa itu akibat tak terjadi), sebab yang sudah cukup sendiri (sudah pasti memicu akibat), dan sebab yang sekadar menambah kemungkinan. Digambarkan lewat diagram tulang ikan: akibat di kepala ikan, sebab-sebab bercabang dari tulang punggung.

Kapan dipakai

Dipakai untuk menjelaskan sebuah kejadian dan menemukan pemicunya yang sebenarnya, sambil menghindari jebakan menyimpulkan sebab palsu (False Cause).

Langkah / Komponen
  1. 1Langkah 1: Pastikan urutan waktu — sebab harus terjadi sebelum akibat
  2. 2Langkah 2: Cari kaitannya — tapi ingat, dua hal yang muncul bersamaan belum tentu saling menyebabkan
  3. 3Langkah 3: Singkirkan kemungkinan penjelasan lain yang masuk akal — kenali alasan yang menyesatkan
  4. 4Uji tiap sebab: apakah harus ada, apakah sudah cukup sendiri, atau sekadar menambah kemungkinan
Catatan / Contoh

Bentuk tulang ikan: akibat di kepala, tema atau faktor utama di tulang besar, sebab-sebab di tulang kecil. Ingat sebab palsu (False Cause): muncul lebih dulu bukan berarti menyebabkan.

Analisis Pemangku Kepentingan (Matriks Kuasa/Kepentingan)Stakeholder Analysis (Power/Interest)

Cara tertata untuk mendata setiap orang, kelompok, atau lembaga yang memengaruhi atau terkena dampak suatu persoalan, lalu menimbang kepentingan, pengaruh, pengetahuan, dan sikap mereka. Urutannya: merumuskan masalah, mendata dan mengenali ciri tiap pihak, sampai memutuskan cara melibatkan atau menjauhkan mereka. Hasilnya harus terus diperbarui.

Kapan dipakai

Dipakai untuk memahami siapa saja yang berkepentingan atas suatu kegiatan, mengukur seberapa besar dukungan atau penolakan mereka, dan menyusun cara merangkul mereka.

Langkah / Komponen
  1. 1Langkah 1: Rumuskan masalahnya
  2. 2Langkah 2: Data semua pihak berkepentingan (pihak utama = yang langsung terdampak; pihak pendukung = perantara atau yang di pinggiran)
  3. 3Langkah 3: Kumpulkan informasi (besar kuasa dan pengaruhnya di bidang politik, sosial, ekonomi, militer; sikap mereka atas persoalan)
  4. 4Langkah 4: Susun prioritas dan petakan besar pengaruh dibanding besar kepentingan
  5. 5Langkah 5: Susun siasat (jaga yang mendukung, balikkan yang menentang, lemahkan yang menentang, tarik yang masih netral)
Catatan / Contoh

Tabel 2x2: Kepentingan dibanding Pengaruh. Kotak terpenting = kepentingan tinggi sekaligus pengaruh tinggi (rangkul erat). Pesan penutup: hasil analisis pihak berkepentingan harus terus diperbarui.

Analisis Medan GayaForce Field Analysis

Cara untuk mendata, membahas, dan menimbang kekuatan-kekuatan yang memengaruhi sebuah keadaan di masyarakat, dengan memisahkan kekuatan pendorong (yang mendorong perubahan, sisi "setuju") dari kekuatan penahan (yang mempertahankan keadaan sekarang, sisi "menolak"). Tiap kekuatan diberi nilai lalu ditimbang di sekitar garis keadaan sekarang. Perubahan baru terjadi ketika kekuatan pendorong mengalahkan kekuatan penahan. Cara ini membantu agar kita tidak buru-buru menganggap lawan selalu bertindak masuk akal menurut ukuran kita sendiri.

Kapan dipakai

Dipakai untuk menilai apakah suatu perubahan atau tujuan bisa tercapai, memahami keseimbangan antara tekanan yang saling berlawanan, dan memutuskan kekuatan mana yang perlu diperkuat atau dilemahkan.

Langkah / Komponen
  1. 1Langkah 1: Rumuskan masalah (mulai dengan curah gagasan)
  2. 2Langkah 2: Data tiap kekuatan (orang, lembaga, sumber daya, sikap, nilai; di ranah militer: senjata, prajurit, perbekalan, komando-kendali, semangat juang, medan, cuaca)
  3. 3Langkah 3: Tinjau dan perjelas (sahihkah? sumbernya tepercaya? relevan? bisa diubah?)
  4. 4Langkah 4: Tentukan bobotnya — beri nilai kekuatan pendorong dibanding penahan di sekitar garis KEADAAN SEKARANG
  5. 5Langkah lanjut: nilai, laporkan, dan tinjau ulang saat kekuatan menguat atau melemah seiring waktu
Catatan / Contoh

Gambarnya dua kolom dengan garis "KEADAAN SEKARANG" di tengah. Empat kegunaan: menganalisis, meringkas data, menampilkan secara grafis, dan membantu mengambil keputusan. Jebakannya: nilai bisa dimainkan, dan ada kekuatan yang luput terdata.

Analisis Jaringan/KeterkaitanLink Analysis

Cara mengolah data untuk memetakan hubungan antar pihak di dalam sebuah jaringan. Tiga bahan utamanya: hubungan, pihak, dan jaringan. Yang dimaksud "pihak" bukan hanya orang — bisa kelompok (organisasi, perusahaan), benda (radio, senjata, kendaraan), kejadian, sampai hal yang tak berwujud (misalnya rencana serangan). Hasilnya berupa tabel hubungan dan bagan jaringan yang menyingkap susunan tersembunyi dan tokoh-tokoh kuncinya.

Kapan dipakai

Dipakai untuk memahami keterkaitan antar pihak, menemukan tokoh yang paling sentral, melihat susunan pimpinan suatu kelompok lewat "pemain kunci", dan menemukan titik lemahnya (misalnya kelompok bersenjata, sel teroris, susunan tempur/ORBAT, pemberontak).

Langkah / Komponen
  1. 1Langkah 1: Kumpulkan data
  2. 2Langkah 2: Data tiap pihak (orang, kelompok, benda, kejadian, hal tak berwujud)
  3. 3Langkah 3: Susun tabel hubungan (urutkan daftar pihak menurut abjad; beri warna untuk yang sudah pasti dan yang belum pasti)
  4. 4Langkah 4: Hitung hubungannya (hitung jumlah kaitan tiap pihak; pihak dengan kaitan terbanyak jadi pusat bagan)
  5. 5Langkah 5: Gambar bagan awal (lingkaran = pihak; garis putus-putus = kaitan yang belum pasti; garis tegas = yang sudah pasti)
  6. 6Langkah 6: Rapikan bagannya
  7. 7Langkah 7: Susun dugaan-dugaan (hipotesis)
Catatan / Contoh

Istilah: Pihak (titik), Kaitan (garis), Jenis hubungan, Jalur (rute antar pihak), Jarak (berapa langkah keterpisahan). Peran penghubung: jembatan, pengoordinasi, penasihat, penjaga pintu, perwakilan, dan penghubung antarpihak.

Perencanaan SkenarioScenario Planning

Cara membayangkan masa depan yang berangkat dari satu dasar: masa depan tak bisa ditebak pasti, tapi kita masih bisa memikirkan apa saja yang mungkin terjadi — jadi skenario bukan ramalan. Urutannya: merumuskan masalah, mencurahkan gagasan tentang kekuatan-kekuatan pendorong, menemukan hal-hal yang paling tak menentu sekaligus paling penting, menyusunnya jadi tabel skenario, membuat ceritanya, lalu menelaahnya. Tujuannya menyiapkan diri menghadapi berbagai masa depan yang masuk akal.

Kapan dipakai

Dipakai untuk menjajaki berbagai kemungkinan masa depan saat keadaan sangat tidak menentu, dan menguji apakah rencana kita tetap tahan menghadapi berbagai cara masa depan itu terjadi.

Langkah / Komponen
  1. 1Langkah 1: Rumuskan masalah (keputusan utama, rentang waktu, fakta)
  2. 2Langkah 2: Curahkan gagasan soal kekuatan pendorong (sosial, teknologi, lingkungan, ekonomi, politik, militer, etika, kejiwaan; kelompokkan lalu saring)
  3. 3Langkah 3: Temukan hal yang paling tak menentu sekaligus penting (pisahkan yang sudah pasti dari yang tak menentu; pilah berdasar seberapa bisa ditebak dan seberapa penting)
  4. 4Langkah 4: Buat skenario — ambil dua pendorong yang paling tak menentu sekaligus penting menjadi tabel 2x2 (empat skenario)
  5. 5Langkah 5: Tulis cerita tiap skenario (harus masuk akal, meyakinkan, dan relevan)
  6. 6Langkah 6: Telaah tiap cerita (di mana butuh informasi tambahan, di mana titik rawannya)
  7. 7Langkah 7: Susun dan pantau tanda-tanda awal dan peringatan dini
Catatan / Contoh

Alur cerita yang lazim: ada yang menang dan kalah, krisis dan tanggapannya, kabar baik atau buruk, perubahan bertahap, sampai kejadian tak terduga (wild card). Contoh tabel: Kemampuan dibanding Kepemimpinan menghasilkan empat skenario di tiap sudut.

Analisis PolaPattern Analysis

Cara tertata untuk menemukan bentuk atau urutan yang teratur dan bisa dipahami dari kegiatan yang terjadi sepanjang waktu maupun di berbagai tempat. Bisa dipakai untuk menjelaskan pola kejadian yang sudah lewat, maupun untuk memperkirakan kejadian mendatang. Membantu memunculkan tanda-tanda awal dan peringatan dini adanya perubahan.

Kapan dipakai

Dipakai dalam operasi tempur biasa, operasi melawan lawan yang tak setara, penjagaan perdamaian, dan bantuan kemanusiaan, saat tersedia data yang cukup dan tepercaya untuk menjelaskan keadaan kini dan memperkirakan kejadian mendatang.

Langkah / Komponen
  1. 1Langkah 1: Rumuskan masalah (tentukan faktor-faktornya)
  2. 2Langkah 2: Uji anggapan kunci (jangan langsung menganggap data itu relevan)
  3. 3Langkah 3: Kumpulkan data (terus-menerus; secara aktif maupun pasif)
  4. 4Langkah 4: Olah data (buang data kacau atau yang menyimpang jauh; perhatikan tempat, waktu, jenis kegiatan, urutan, jeda, dan pemicunya)
  5. 5Langkah 5: Tafsirkan polanya (gambar ulang dengan berbagai cara; perhatikan medan, iklim, dan penduduk)
Catatan / Contoh

Ciri pola yang baik (singkatan ORDER): bisa diamati, bisa dikenali, jelas batasnya, bisa dimanfaatkan, dan berulang. Bahayanya: pola palsu, pola yang bertumpuk, keadaan buruk yang lama-lama dianggap wajar, dan pola yang memudar. Pola jarang berulang persis sama.

Berpikir Sistem / Analisis Sistem Sasaran (Model Gunung Es)Systems Thinking / Target System Analysis (Iceberg Model)

Cara pandang yang memperlakukan dunia dan medan tempur sebagai satu kesatuan yang saling terhubung, supaya bisa menemukan titik lemahnya — baik yang bisa diserang dengan senjata maupun yang tidak. Perhatiannya tertuju pada hubungan antar bagian, bukan tiap bagian sendiri-sendiri. Analisis Sistem Sasaran khususnya bertujuan mencari celah: menemukan simpul dan kaitan untuk menentukan di mana sistem itu paling baik diganggu. Model Gunung Es mengingatkan bahwa kejadian yang tampak hanyalah puncak yang terlihat di atas air.

Kapan dipakai

Dipakai untuk masalah yang harus dilihat secara utuh, untuk menemukan susunan dan cara berpikir yang mendasarinya, menemukan titik yang paling berpengaruh bila diutak-atik, serta mencari titik lemah di antara bagian-bagian yang saling terhubung.

Langkah / Komponen
  1. 1Langkah 1: Rumuskan masalahnya
  2. 2Langkah 2: Gambarkan lingkungan operasinya
  3. 3Langkah 3: Temukan kejadian dan polanya
  4. 4Langkah 4: Data semua bagian penyusun sistem (misalnya politik, militer, media, agama, ekonomi)
  5. 5Langkah 5: Temukan kekuatan dan kelemahan tiap bagian
  6. 6Langkah 6: Temukan kaitan dan hubungan antar bagian
  7. 7Langkah 7: Temukan akar penyebab yang menyangkut seluruh sistem
  8. 8Langkah 8: Temukan titik sasaran atau titik yang paling berpengaruh bila diutak-atik
Catatan / Contoh

Model Gunung Es dari permukaan ke dasar: Kejadian (apa yang terjadi, ditanggapi), Pola (kecenderungan, diantisipasi), Susunan (bagaimana bagian saling memengaruhi, dirancang ulang), dan Cara Berpikir (sikap, keyakinan, nilai, anggapan, perlu diubah).

Pemindaian Lingkungan / PESTLEEnvironmental Scanning / PESTLE

Cara untuk memindai lingkungan operasi, yang ditata berdasarkan tiga tiang kemampuan militer (susunan kekuatan, kesiapan, dan daya tahan) ditambah faktor-faktor dari luar. Faktor dari luar ditimbang berdasar seberapa besar dampaknya, seberapa sering muncul, dan seberapa kuat pengaruhnya pada organisasi. Hasilnya menjadi bahan untuk menganalisis organisasi dan menilai kemampuannya.

Kapan dipakai

Dipakai untuk menilai kemampuan militer suatu pihak sekaligus keadaan di luar yang ikut membentuknya.

Langkah / Komponen
  1. 1Susunan kekuatan (susunan satuan, peralatan, susunan tempur/ORBAT, prajurit)
  2. 2Kesiapan (latihan, kepemimpinan, semangat juang, organisasi, sarana perpindahan pasukan)
  3. 3Daya tahan (dukungan perbekalan, kekuatan ekonomi, pemeliharaan, dukungan politik dan rakyat, pangkalan)
  4. 4Faktor dari luar (PESTLE): Politik, Ekonomi, Sosial, Teknologi, Hukum, Lingkungan
Catatan / Contoh

Faktor dari luar = kelompok PESTLE (Politik, Ekonomi, Sosial, Teknologi, Hukum, Lingkungan). Bahan dasar pembentuk kemampuan meliputi organisasi, komando, prajurit, latihan bersama, sistem utama, fasilitas, pasokan, dan dukungan.

Perumusan Masalah (7 langkah)Problem Formulation / Problem Definition

Tujuh langkah tertata untuk merumuskan masalah dengan jelas sebelum penyelidikan dimulai, supaya hasilnya berguna dan tenaga tidak terbuang. Merumuskan masalah membuat tugas menjadi jelas, hasilnya pas dengan kebutuhan, hemat waktu, mengurangi pemborosan, dan memastikan informasi penting yang dicari benar-benar terjawab. Urutannya: dari memperjelas istilah sampai memastikan kembali kepada pemberi tugas bahwa masalah yang sudah dirumuskan ulang itu sudah tepat.

Kapan dipakai

Dipakai di awal penugasan untuk memastikan Anda menjawab pertanyaan yang benar sebelum mencurahkan tenaga untuk menyelidiki.

Langkah / Komponen
  1. 11. Perjelas istilah-istilahnya
  2. 22. Gali kebutuhan pemberi tugas (mirip isian formulir permintaan produk)
  3. 33. Tentukan cakupannya (siapa, di mana, kapan, seberapa besar)
  4. 44. Rumuskan ulang masalahnya (jadi pernyataan, dugaan, atau pertanyaan penyelidikan)
  5. 55. Daftar batasannya (anggapan, definisi, batas, ruang lingkup, tingkat kerahasiaan)
  6. 66. Nilai kelayakannya (cukupkah waktu, sumber daya, dan orang yang tepat?)
  7. 77. Pastikan kembali kepada pemberi tugas
Catatan / Contoh

Pesan penutup: tugas sering bersifat luas, jadi banyaklah bertanya (terutama "Mengapa?"), dan selalu pastikan kembali. Langkah 2 mencerminkan isian formulir permintaan produk: pengguna akhir, tujuan, informasi yang dibutuhkan, tenggat, bentuk penyajian, dan tingkat kerahasiaan.

Curah Gagasan (Brainstorming)Brainstorming

Proses yang ditata untuk mengumpulkan gagasan sebanyak mungkin, menciptakan suasana yang aman untuk bicara, mendorong jalan keluar yang kreatif, dan membuat pemikiran melebar ke banyak kemungkinan (bukan langsung menyempit ke satu jawaban). Memanfaatkan kerja sama kelompok dan beragam pengalaman untuk menembus hambatan berpikir. Disajikan sebagai cara terstruktur empat tahap, bukan obrolan bebas. Ini penangkal kecenderungan keliru yang paling sering disebut di buku panduan.

Kapan dipakai

Dipakai untuk memunculkan beragam gagasan atau pilihan atas suatu masalah, memperluas pemikiran, dan menembus hambatan berpikir tiap orang sebelum dipersempit.

Langkah / Komponen
  1. 11. Persiapan: rumuskan masalah, pilih tempat, pilih peserta dan perannya (pemandu, pencatat, anggota), tetapkan aturan (tanpa mengkritik, banyaknya gagasan yang utama, boleh mengembangkan gagasan orang lain)
  2. 22. Pemanasan: lima menit, pertanyaan ringan untuk mengendurkan suasana
  3. 33. Memunculkan gagasan: 30 menit; pemandu mencatat apa adanya tanpa menafsirkan; bisa pakai cara spontan bergiliran bebas, bergiliran teratur, tempel kertas tempel, atau saling oper kertas antar peserta
  4. 44. Penyaringan dan penilaian: buang yang kembar atau tak relevan; saring berdasar biaya, waktu, sumber daya; pilih lima gagasan, bagikan 100 poin, lalu pilih dan NILAI
Catatan / Contoh

Penutup: alat yang ampuh; membuka banyak kemungkinan; paling baik bila tertata; jangan langsung membuang gagasan awal. Setara dengan pemikiran paralel dan menjadi dasar metode Enam Topi Berpikir.

Pemikiran Paralel / Enam Topi BerpikirParallel Thinking / Six Thinking Hats

Cara dari Edward de Bono: tiap topi berwarna mewakili satu cara berpikir yang berbeda, dan semua dipakai serentak sehingga seluruh kelompok menelaah persoalan dari sudut pandang yang sama pada saat yang sama. Cara ini memaksa orang melepas pendirian tetapnya dan mendorong kerja sama, bukan perdebatan. Ini penangkal kegagalan membayangkan kemungkinan, kebiasaan mengira lawan berpikir seperti kita, dan terpaku pada hal yang paling baru.

Kapan dipakai

Dipakai saat kelompok perlu menelaah masalah secara runtut dari berbagai sudut pandang yang dipisah-pisah, memastikan fakta, kreativitas, manfaat, risiko, dan perasaan masing-masing mendapat giliran tanpa berdebat.

Langkah / Komponen
  1. 1Topi Biru: mengatur jalannya pembahasan, memberi gambaran umum, meringkas dan memutuskan (peran pemimpin)
  2. 2Topi Putih: hanya fakta — netral, apa adanya, dan informasi yang masih kurang
  3. 3Topi Hijau: kreatif, mencari pilihan lain, dan membangun gagasan (peran pencetus ide)
  4. 4Topi Kuning: sisi baik yang masuk akal — optimis, manfaat dan nilai sebuah gagasan
  5. 5Topi Hitam: sisi buruk yang masuk akal — menilai, berhati-hati, apa yang bisa salah
  6. 6Topi Merah: perasaan, suasana hati, dan firasat — tanpa perlu diberi alasan
Catatan / Contoh

Urutan enam langkah saat dipandu: Biru (rumusan) -> Putih (fakta) -> Hijau (gagasan) -> Kuning lalu Hitam (manfaat lalu kelemahan) -> Merah (perasaan) -> Biru (ringkas dan putuskan). Semua memakai topi yang sama pada saat yang sama = pemikiran paralel.

Penalaran Analogis (5 langkah)Analogous Reasoning

Cara tertata yang memakai perumpamaan — kemiripan antara dua hal atau lebih — untuk menilai kasus sekarang (yang ingin dipahami) dengan membandingkannya pada kasus yang sudah dikenal. Ini bentuk penalaran dari contoh ke contoh: semakin banyak dan semakin kuat kemiripannya, semakin kuat pula perumpamaannya. Menjadi dasar untuk membuat perkiraan, memunculkan dugaan baru, dan menelaah keterkaitan.

Kapan dipakai

Dipakai saat ada keadaan sekarang yang belum cukup dipahami dan Anda ingin memperkirakan atau menjelaskannya dengan membandingkannya pada kasus yang lebih dikenal.

Langkah / Komponen
  1. 1Langkah 1: Rumuskan masalah (keadaan yang ingin dipahami)
  2. 2Langkah 2: Cari kasus lain yang mirip
  3. 3Langkah 3: Teliti kasus itu (pahami sampai dalam; cari hubungan sebab-akibatnya)
  4. 4Langkah 4: Nilai hasilnya — cari kemiripan dan perbedaannya memakai patokan tertentu (misalnya PMESII atau ASCOPE)
  5. 5Langkah 5: Susun tanda-tanda awal dan peringatan dini untuk menguatkan atau menggugurkan perumpamaan itu
Catatan / Contoh

Enam ukuran mutu sebuah perumpamaan: jumlah contoh, keragaman contoh, banyaknya kemiripan, seberapa relevan, banyaknya perbedaan, dan seberapa hati-hati kesimpulannya. Peringatan: "Jangan memaksakan perumpamaan", apalagi antar budaya yang berbeda.

Analisis Multi-KriteriaMulti-Criteria Analysis

Menimbang tiap faktor, sifat, atau patokan yang relevan satu per satu, lalu menggabungkan nilai masing-masing menjadi satu penilaian atau keputusan menyeluruh. Cara ini mencegah satu sisi saja mendominasi, karena masalah dinilai dari beberapa patokan sekaligus. Buku panduan mengaitkannya dengan cara menilai beberapa kemungkinan atau pilihan yang bersaing lewat tabel pemberian nilai.

Kapan dipakai

Dipakai saat sebuah keputusan atau pilihan harus dinilai dari beberapa faktor yang berbeda, bukan hanya satu.

Langkah / Komponen
  1. 1Tentukan faktor, sifat, atau patokan yang relevan
  2. 2Timbang tiap patokan satu per satu
  3. 3Gabungkan nilai-nilai tadi menjadi satu penilaian menyeluruh
Catatan / Contoh

Tabel pemberian nilai antara bukti atau alasan dibanding tiap patokan (berkaitan dengan ACH).

Pemetaan Kognitif / Peta PikiranCognitive Mapping / Mind Maps

Cara mencatat dan berpikir secara bergambar yang disebut lebih baik daripada catatan baris demi baris yang biasa. Catatan baris demi baris dianggap boros waktu, mengaburkan kata kunci, sulit ditinjau ulang, tidak memunculkan kaitan antar gagasan, sulit diingat, dan kurang merangsang otak untuk berpikir kreatif. Peta pikiran menjawabnya dengan susunan yang lebih cocok dengan cara kerja otak: satu gambar di tengah dengan cabang-cabang yang memancar.

Kapan dipakai

Dipakai untuk menyelidiki, mencatat, dan menata pikiran supaya mudah diingat, saling terkait, dan memancing kreativitas.

Langkah / Komponen
  1. 1Selalu mulai dari satu gambar di tengah
  2. 2Pakai gambar di seluruh peta
  3. 3Pakai beragam ukuran dan warna
  4. 4Tulis tiap kata terpisah; tarik garis yang saling menyambung
  5. 5Kembangkan gaya sendiri; susun dari yang umum ke yang rinci
Catatan / Contoh

Satu gambar di tengah dengan cabang-cabang berwarna yang memancar. Gagasan utamanya: catatan baris demi baris "kurang merangsang otak untuk berpikir kreatif". Tiga manfaatnya: meringkas data, menyimpan dan menemukan kembali, serta menampilkan secara bergambar.

Mengelola Ketidakpastian (Matriks Known/Unknown)Managing Uncertainty (Knowns/Unknowns Matrix)

Kerangka yang memilah apa yang diketahui penelaah ke dalam empat kotak untuk menentukan cara menanganinya. Hal yang kita tahu bahwa kita tahu, dan hal yang kita tahu bahwa kita belum tahu, ditangani dengan keyakinan, pencocokan dengan sumber lain, penataan informasi, dan pengumpulan data. Sedangkan hal yang kita tahu tanpa sadar, dan hal yang sama sekali tak kita sadari, menuntut kreativitas. Tiap kotak punya cara penanganannya sendiri.

Kapan dipakai

Dipakai untuk menata cara menangani kekosongan informasi dan tingkat keyakinan dalam sebuah penilaian, lalu memilih tanggapan yang pas untuk tiap jenis pengetahuan.

Langkah / Komponen
  1. 1Yang kita tahu bahwa kita tahu: percayai hasil telaahnya; cocokkan dengan sumber lain
  2. 2Yang kita tahu bahwa kita belum tahu: kelola kekosongan itu; kumpulkan datanya
  3. 3Yang kita tahu tanpa sadar: tata informasinya; pahami betul apa yang sudah dimiliki
  4. 4Yang sama sekali tak kita sadari: "tidak tahu bukanlah keuntungan"; pakai curah gagasan, Enam Topi Berpikir, dan perencanaan skenario
Catatan / Contoh

Empat kotak ala Rumsfeld. Untuk hal yang sama sekali tak disadari: "tidak tahu bukanlah keuntungan; perlu kreativitas dalam menelaah", dijawab dengan curah gagasan, Enam Topi Berpikir, dan perencanaan skenario.

Penalaran DeduktifDeductive Reasoning

Cara bernalar yang kesimpulannya pasti benar bila pijakan awalnya (premis) benar — menarik sesuatu yang pasti terjadi. Agar penalaran ini kokoh, pijakan awalnya harus benar dan cara menyimpulkannya harus tepat. Penalaran ini memakai keterangan yang sudah dimiliki sehingga cenderung lebih pasti, tapi sangat bergantung pada benar-tidaknya pijakan awal.

Kapan dipakai

Dipakai saat menarik kesimpulan yang pasti dari pijakan awal yang sudah mantap; cocok ketika pijakan awalnya memang sudah diketahui benar.

Langkah / Komponen
  1. 1Tarik kesimpulan yang pasti
  2. 2Agar penalaran kokoh: pijakan awal harus benar
  3. 3Cara menyimpulkannya harus tepat
Catatan / Contoh

Contoh klasik: "Socrates manusia; semua manusia pasti mati; maka Socrates pasti mati." Bila pijakan awalnya benar, kesimpulannya PASTI mengikuti.

Penalaran InduktifInductive Reasoning

Cara bernalar yang menghasilkan kesimpulan yang sekadar mungkin benar, tidak terjamin, walau pijakan awalnya benar. Menarik kesimpulan luas dari sekumpulan pengamatan yang khusus, melampaui apa yang sebenarnya terbukti. Pijakan awal mendukung kesimpulan, tapi tidak menjaminnya.

Kapan dipakai

Dipakai saat menarik kesimpulan luas dari bukti yang diamati dalam keadaan yang belum pasti — sangat umum dalam penilaian dan telaah.

Langkah / Komponen
  1. 1Bergerak dari pengamatan yang khusus ke kesimpulan yang umum
  2. 2Pijakan awal mendukung, tapi tidak menjamin kesimpulan
  3. 3Kesimpulannya sekadar mungkin benar, bukan pasti
Catatan / Contoh

Penalaran ini menghasilkan kesimpulan yang mungkin benar, tak pernah pasti (berbeda dari penalaran deduktif).

Penalaran AbduktifAbductive Reasoning

Cara bernalar yang mencari penjelasan paling masuk akal dari pengamatan yang belum lengkap. Penalaran ini bersifat kreatif dan mengandalkan firasat, menyusun penjelasan yang paling masuk akal walau belum pasti, dari bukti yang sering belum utuh. Dalam telaah, cara ini dipakai untuk memunculkan dugaan-dugaan (hipotesis).

Kapan dipakai

Dipakai untuk memunculkan dugaan atau penjelasan yang paling masuk akal saat pengamatan masih belum lengkap; ini alat untuk membangkitkan dugaan.

Langkah / Komponen
  1. 1Mulai dari pengamatan yang belum lengkap
  2. 2Susun penjelasan yang paling mungkin
  3. 3Pakai untuk memunculkan dugaan yang akan diuji lebih lanjut
Catatan / Contoh

Mirip cara dokter mendiagnosis: dari gejala yang belum lengkap, ia menyimpulkan penyebab yang paling mungkin.

Berpikir Kritis vs Kreatif (Konvergen/Divergen)Critical vs Creative Thinking

Telaah yang baik menyeimbangkan dua cara berpikir: berpikir kreatif yang melebar (memunculkan banyak gagasan, mencabang ke mana-mana) dan berpikir kritis yang menyempit (mengerucut menuju satu kesimpulan yang benar). Berpikir kritis menafsirkan, menganalisis, menimbang, dan menguji untuk sampai pada satu jawaban yang benar; berpikir kreatif memunculkan gagasan dan penjelasan-penjelasan lain. Keduanya sama-sama dibutuhkan.

Kapan dipakai

Dipakai sepanjang proses telaah — yang kreatif untuk memperluas pilihan, yang kritis untuk menguji dan mempersempitnya.

Langkah / Komponen
  1. 1Berpikir kreatif (melebar): memunculkan dan membayangkan berbagai pilihan
  2. 2Berpikir kritis (menyempit): menimbang dan menguji
  3. 3Terapkan keduanya secara seimbang
Catatan / Contoh

Yang melebar memancar keluar (kreatif); yang menyempit mengerucut ke satu jawaban (kritis) — bagai dua arah panah dalam telaah.

Metode Mill / Penalaran KausalMill's Methods / Causal Reasoning

Sekumpulan cara klasik untuk menarik kesimpulan dari banyak pengamatan (dari John Stuart Mill, 1806-1873) guna menemukan hubungan sebab-akibat. Ada lima cara untuk memisahkan mana yang benar-benar sebab, dengan keterbatasan yang disebut terang-terangan. Cara ini menjadi dasar logika bagi Analisis Sebab-Akibat. Membedakan sebab yang harus ada, sebab yang sudah cukup sendiri, dan sebab yang sekadar menambah kemungkinan.

Kapan dipakai

Dipakai saat menyimpulkan sebab dari sekumpulan kasus yang diamati — mencari faktor apa yang selalu muncul saat akibat terjadi, atau yang hilang saat akibat tidak terjadi.

Langkah / Komponen
  1. 1Cara Persamaan: cari faktor yang sama di semua kasus saat akibat muncul
  2. 2Cara Perbedaan: bandingkan kasus saat akibat muncul dan saat tidak muncul
  3. 3Cara Gabungan Persamaan dan Perbedaan
  4. 4Cara Sisa: singkirkan sebab yang sudah diketahui, sisanya yang dicurigai
  5. 5Cara Perubahan Bersamaan: lihat apakah dua hal naik-turun bersamaan
Catatan / Contoh

Keterbatasannya: sebab harus benar-benar relevan; semua sebab yang mungkin harus dipertimbangkan; cara ini tidak mengenali sebab yang belum diketahui; tidak membuktikan sebab secara mutlak; dan mendorong orang mencari satu sebab saja (ini kelemahan, karena sering ada sebab yang sekadar menambah kemungkinan).

Bias KonfirmasiConfirmation Bias

Kecenderungan mencari informasi yang membenarkan pendirian kita dan menutup mata pada informasi yang menyangkalnya — menghindari hal yang menantang pendirian dan hanya mencari yang menguatkan. Akibatnya, penelaah hanya mengumpulkan bukti yang mendukung pandangan yang sudah ada di kepalanya.

Kapan dipakai

Muncul saat penelaah hanya mengumpulkan bukti yang mendukung pandangan yang sudah ia anut.

Langkah / Komponen
  1. 1Mencari informasi yang menguatkan pendirian
  2. 2Menghindari hal yang menantang dan hanya mencari penguatan
Catatan / Contoh

Penangkalnya: pikiran terbuka, curah gagasan, dan ACH — cara yang memang dirancang khusus untuk melawan kecenderungan ini.

Bias Anchoring / Kesan PertamaAnchoring / First-Impression Bias

Kecenderungan di mana kesan pertama menjadi patokan yang sulit dilepas, sehingga orang enggan mengubah perkiraannya walau ada informasi baru — ia terpaku pada kesimpulan pertama yang ia ambil dari informasi pertama yang ia lihat atau dengar.

Kapan dipakai

Untuk berjaga-jaga agar tidak memberi bobot berlebih pada informasi pertama yang diterima saat menilai sesuatu.

Langkah / Komponen
  1. 1Kesan pertama menjadi patokan yang sulit dilepas
  2. 2Enggan mengubah perkiraan
  3. 3Terpaku pada informasi pertama
Catatan / Contoh

Penangkalnya: uji anggapan, jaga rasa ingin tahu, dan pakai sistem penilaian Admiralty untuk menimbang informasi.

Mirror Imaging (Pencerminan Diri)Mirror Imaging

Kecenderungan menganggap pihak lain akan berpikir dan bertindak seperti kita (atau kelompok kita) — menempelkan nilai dan cara pikir kita sendiri pada lawan. Ini salah satu sumber kegagalan telaah yang utama: mengira lawan "sama seperti kita".

Kapan dipakai

Dipakai saat menilai lawan atau budaya lain agar tidak menempelkan cara pikir kita sendiri pada mereka.

Langkah / Komponen
  1. 1Menganggap pihak lain punya tujuan dan cara pikir yang sama dengan Anda
Catatan / Contoh

Penangkalnya: kenali budaya pihak lain, curah gagasan, pemikiran paralel/Enam Topi Berpikir, dan SWOT.

Kegagalan ImajinasiFailure of Imagination

Kelemahan berupa tidak mampu membayangkan kemungkinan atau keadaan — termasuk ancaman dan akibat yang baru atau tak terduga. Ini kritik yang sering muncul setelah peristiwa besar terjadi.

Kapan dipakai

Untuk melawan ketidakmampuan membayangkan ancaman dan akibat yang baru atau tak terduga.

Langkah / Komponen
  1. 1Tidak mampu membayangkan keadaan atau kemungkinan baru
Catatan / Contoh

Penangkalnya: berpikir kreatif, curah gagasan, perencanaan skenario, pemikiran paralel/Enam Topi Berpikir, dan SWOT.

Pemodelan Aktor Rasional (bias)Rational Actor Modelling

Anggapan bahwa seorang tokoh akan bertindak "masuk akal", memilih pilihan berdasar manfaat yang ia harapkan dan nilai-nilai pribadinya — anggapan ini bisa menyesatkan ketika ukuran masuk akal menurut tokoh itu berbeda dari ukuran kita. Masuk akal itu menurut si tokoh, bukan menurut penelaah.

Kapan dipakai

Dipakai saat memperkirakan keputusan seorang tokoh, agar kita tidak mengira ia akan bertindak sesuai ukuran masuk akal versi kita sendiri.

Langkah / Komponen
  1. 1Anggapan bahwa tokoh akan bertindak "masuk akal"
  2. 2Pilihannya berdasar manfaat yang diharapkan dan nilai pribadinya
Catatan / Contoh

Penangkalnya: pelajari riwayat hidup tokoh itu, curah gagasan, Analisis Medan Gaya, dan perencanaan skenario.

Bias Kejelasan (Vividness)Vividness Bias

Kecenderungan memberi bobot lebih besar pada informasi yang langsung, gamblang, dan berkesan, dibanding bukti dari tangan kedua atau angka-angka — satu kejadian nyata mengalahkan kumpulan angka di benak kita. Erat kaitannya dengan kecenderungan terpaku pada hal yang paling baru.

Kapan dipakai

Untuk mengenali saat sebuah cerita dramatis terlalu dipercaya dibanding data angka yang sahih tapi terasa membosankan.

Langkah / Komponen
  1. 1Informasi dari tangan pertama dibanding dari tangan kedua
  2. 2Satu kejadian nyata mengalahkan kumpulan angka
Catatan / Contoh

Satu kejadian yang gamblang bisa mengalahkan seluruh tabel angka.

Efek Kebaruan (Recency)Recency Effect

Kecenderungan, mirip dengan bias kejelasan, di mana penelaah memberi bobot lebih pada data yang paling baru. Informasi terbaru terasa "berteriak paling keras".

Kapan dipakai

Untuk melawan kebiasaan memberi bobot berlebih pada informasi yang paling baru saat menarik kesimpulan.

Langkah / Komponen
  1. 1Memberi bobot lebih pada data yang paling baru
Catatan / Contoh

Penangkalnya: catatan kegiatan harian, pemikiran paralel/Enam Topi Berpikir, dan ACH.

Kebutaan Perhatian (Inattentional Blindness)Inattentional Blindness

Tidak melihat sesuatu yang jelas ada di depan mata karena perhatian terlalu terpusat pada apa yang kita anggap penting. Penyebabnya antara lain: hal yang rumit atau terlalu biasa, otak yang kelelahan, terlalu fokus pada satu hal, sudah merasa "tahu" apa yang dicari, dan keterbatasan daya perhatian. Inilah yang disebut efek "gorila tak terlihat".

Kapan dipakai

Menjelaskan mengapa bukti yang jelas tapi tak terduga sering terlewat, dan bagaimana memperluas perhatian.

Langkah / Komponen
  1. 1Tidak melihat sesuatu yang jelas ada di depan mata
  2. 2Penyebabnya: hal yang rumit atau terlalu biasa, otak lelah, terlalu fokus, sudah merasa tahu, dan daya perhatian terbatas
Catatan / Contoh

Penangkalnya: curah gagasan, perencanaan skenario, dan ACH.

Groupthink / Pengaruh KelompokGroupthink / Group Influence

Gejala ketika cara pikir seseorang berubah atau terpengaruh oleh pandangan kelompoknya; orang itu lalu menyesuaikan diri dengan cara pikir kelompok. Kelompok membentuk bahasa, penampilan, sikap, dan pendapat khas yang ikut membentuk sekaligus membatasi penilaian tiap anggotanya. Saat kelompok makin kompak, kekompakan itu bisa memunculkan pikiran seragam dan hilangnya kreativitas.

Kapan dipakai

Untuk mengenali tekanan untuk ikut-ikutan dan pikiran seragam yang bisa mengaburkan telaah bersama.

Langkah / Komponen
  1. 1Cara pikir seseorang diubah oleh kelompok
  2. 2Orang itu menyesuaikan diri dengan cara pikir kelompok
  3. 3Kelompok membentuk bahasa, penampilan, sikap, dan pendapat khas
Catatan / Contoh

Penangkalnya di tingkat tim: berani berdebat keras, mencampur beragam keterampilan dan pengalaman, merotasi anggota, dan memakai cara telaah yang tertata.

Cara Meminimalkan Bias (Individu + Tim)Mitigating Bias (Individual + Team)

Kecenderungan keliru dilawan di dua tingkat. Tingkat orang per orang: jaga pikiran terbuka, uji anggapan, tentukan informasi penting yang masih kurang, pakai berpikir kreatif sekaligus kritis, timbang setiap informasi, gunakan beragam jenis sumber, dan catat jalan pikiran agar bisa ditelusuri kembali. Tingkat tim: berani berdebat keras, campurkan beragam keterampilan, pengalaman, dan latar belakang, rotasi anggota, lalu pakai cara telaah yang tertata.

Kapan dipakai

Dipakai sebagai kebiasaan agar proses kerja, baik sendiri maupun bersama, sama-sama menekan kecenderungan keliru.

Langkah / Komponen
  1. 1Orang per orang: pikiran terbuka, uji anggapan, tentukan informasi yang masih kurang, berpikir kreatif sekaligus kritis, timbang informasi, pakai beragam sumber, catat jalan pikiran
  2. 2Tim: berani berdebat keras; campurkan keterampilan, pengalaman, dan latar belakang; rotasi anggota
  3. 3Tim: pakai ACH, pemikiran paralel/Enam Topi Berpikir, uji anggapan, Analisis Medan Gaya, SWOT, perencanaan skenario, dan curah gagasan
Catatan / Contoh

Pesan pokok: "Tidak menyadari kecenderungan keliru Anda sendiri pun adalah sebuah kekeliruan." Anda tidak kebal; cara kerja yang tertata menekan risikonya.

Banding pada OtoritasAppeal to Authority

Kekeliruan berpikir yang menyatakan suatu pernyataan benar semata karena seseorang yang berwenang atau ahli mengatakannya benar, tanpa bukti pendukung lain. Ucapan sang ahli saja diperlakukan seolah sudah jadi bukti.

Kapan dipakai

Terlihat saat sebuah pendapat hanya bersandar pada "kata seorang ahli", bukan pada bukti.

Langkah / Komponen
  1. 1Pernyataan dianggap benar hanya karena orang berwenang atau ahli mengatakannya
  2. 2Tidak ada bukti pendukung lain yang diberikan
Catatan / Contoh

"Ahli mengatakannya, jadi pasti benar" — padahal tak ada bukti apa pun di baliknya.

Serangan pada Pribadi (Ad Hominem)Argument Against the Person (Ad Hominem)

Kekeliruan berpikir yang menghindari pokok bahasan dengan menyerang watak, niat, atau hal lain pada diri orang yang menyampaikan pendapat. Yang diserang orangnya, bukan jalan pikirannya.

Kapan dipakai

Terlihat saat sebuah pendapat dibantah dengan menyerang orang yang mengucapkannya, bukan isi pendapatnya.

Langkah / Komponen
  1. 1Menghindari pokok bahasan yang sebenarnya
  2. 2Menyerang watak, niat, atau pribadi orang tersebut
Catatan / Contoh

Istilah Latin "ad hominem" — menyerang orangnya, bukan persoalannya.

Banding pada Emosi/Belas Kasihan/PaksaanAppeal to Emotion / Pity / Force

Kekeliruan berpikir yang mengganti kewajiban menyajikan bukti dengan membangkitkan perasaan (semangat, amarah, kebencian) demi memenangkan persetujuan. Ada dua bentuknya: membangkitkan rasa iba (memanfaatkan belas kasihan) dan menggunakan ancaman (memaksa lewat rasa takut). Perasaan dipakai menggantikan bukti.

Kapan dipakai

Terlihat saat orang dibujuk lewat permainan perasaan, bukan lewat bukti.

Langkah / Komponen
  1. 1Mengganti penyajian bukti dengan membangkitkan perasaan
  2. 2Membangkitkan rasa iba: menyasar belas kasihan dan rasa peduli pendengar
  3. 3Menggunakan ancaman: memakai rasa takut untuk memaksa persetujuan
Catatan / Contoh

Contoh ancaman: "Jika Anda tidak menghukum pembunuhan ini, salah satu dari Anda bisa jadi korban berikutnya." Ancaman dipakai seolah-olah itu "bukti".

Kesimpulan Tak Relevan (Red Herring)Irrelevant Conclusion (Red Herring)

Kekeliruan berpikir di mana pembicaraan dibelokkan dari pokok bahasan, sehingga kesimpulan tidak lagi nyambung dengan pijakan awalnya. Istilah "ikan haring merah" menggambarkan upaya menyesatkan atau mengalihkan perhatian dari pokok yang sebenarnya, sampai kesimpulannya tak ada kaitannya dengan pijakan awal.

Kapan dipakai

Terlihat saat kesimpulan tak berkaitan dengan pijakan yang semestinya mendukungnya, atau saat pengalih perhatian sengaja dimasukkan.

Langkah / Komponen
  1. 1Membelokkan pembicaraan dari pokok bahasan yang sebenarnya
  2. 2Memasukkan pengalih perhatian
  3. 3Sampai pada kesimpulan yang tak nyambung dengan pijakan awal
Catatan / Contoh

Taktik pengalihan perhatian, istilahnya "ikan haring merah".

Argumen dari KetidaktahuanArgument from Ignorance

Kekeliruan berpikir yang menganggap sesuatu benar hanya karena belum terbukti salah — atau menganggapnya salah hanya karena belum terbukti benar. Tidak adanya bukti sebaliknya keliru diperlakukan seolah-olah itu sudah jadi bukti.

Kapan dipakai

Terlihat saat tidak adanya bukti di kedua sisi dipakai seolah sudah menuntaskan persoalan.

Langkah / Komponen
  1. 1Mengaku sesuatu benar karena belum terbukti salah
  2. 2Atau mengaku sesuatu salah karena belum terbukti benar
Catatan / Contoh

"Anda tidak bisa membuktikan itu tidak benar, jadi pasti benar."

Pertanyaan Bermuatan (Complex Question)Complex Question (Loaded Question)

Kekeliruan berpikir yang terjadi saat sebuah pertanyaan diajukan dengan menumpang pada anggapan yang sebenarnya masih perlu dibuktikan, sehingga jawaban apa pun jadi membenarkan anggapan itu. Anggapan tersembunyi diselipkan lewat cara pertanyaan disusun.

Kapan dipakai

Terlihat saat susunan pertanyaan memaksa orang menerima anggapan yang belum terbukti.

Langkah / Komponen
  1. 1Mengajukan pertanyaan yang menumpang pada anggapan yang masih dipersoalkan
  2. 2Jawaban apa pun akhirnya membenarkan anggapan itu
Catatan / Contoh

Contoh klasik: "Apakah Anda sudah berhenti memukuli istri Anda?"

Sebab Palsu (False Cause)False Cause

Kekeliruan berpikir yang menetapkan hubungan sebab-akibat yang sebenarnya tidak ada — kaitannya hanya berdasar anggapan semata. Dua hal yang muncul bersamaan atau berurutan keliru dianggap saling menyebabkan. Padahal sesuatu yang terjadi lebih dulu belum tentu menyebabkan hal yang muncul setelahnya.

Kapan dipakai

Terlihat saat sesuatu diklaim menyebabkan hal lain tanpa bukti sebab yang sungguhan (sering berupa pikiran "terjadi sesudahnya, berarti disebabkannya").

Langkah / Komponen
  1. 1Menetapkan adanya hubungan sebab-akibat
  2. 2Mendasarkannya pada anggapan semata, bukan bukti
Catatan / Contoh

Dua hal yang sekadar muncul bersamaan keliru dianggap saling menyebabkan.

Berputar (Begging the Question)Begging the Question (Circular Reasoning)

Kekeliruan berpikir di mana kesimpulan sudah dianggap benar di dalam salah satu pijakan awalnya, sehingga pendapat itu sekadar mengulang apa yang mau dibuktikan. Jalan pikirannya berputar pada dirinya sendiri dan tidak membuktikan apa pun yang baru.

Kapan dipakai

Terlihat saat pijakan awal sebuah pendapat ternyata sudah memuat kesimpulannya.

Langkah / Komponen
  1. 1Kesimpulan sudah dianggap benar di salah satu pijakan awal
  2. 2Jalan pikirannya membentuk lingkaran tertutup
Catatan / Contoh

Digambarkan sebagai lingkaran — pendapat yang mengejar ekornya sendiri.

Ekuivokasi (Pergeseran Makna)Equivocation

Kekeliruan berpikir di mana arti sebuah kata bergeser di antara pijakan-pijakan awal, atau antara pijakan awal dan kesimpulan. Pergeseran arti satu kata itu membuat pendapat yang sebenarnya keliru tampak benar.

Kapan dipakai

Terlihat saat satu kata kunci dipakai dalam dua arti yang berbeda di dalam satu pendapat.

Langkah / Komponen
  1. 1Memakai kata yang bisa diartikan ganda
  2. 2Menggeser maknanya di sepanjang pendapat
  3. 3Sampai pada kesimpulan keliru yang terlihat benar
Catatan / Contoh

"Bulu itu ringan; yang ringan tidak bisa gelap; jadi bulu tidak bisa gelap." Kata "ringan" di sini dipermainkan antara arti tidak berat dan arti terang.

Presisi PalsuFalse Precision

Kekeliruan berpikir yang terjadi saat sebuah pernyataan dibuat seolah jauh lebih tepat daripada kenyataannya — menyajikan angka atau data dengan tingkat ketelitian yang tidak didukung bukti yang ada. Angka yang terdengar sangat persis bisa jadi cuma tipuan yang dibungkus seolah-olah ilmiah, padahal tidak disusun dengan cara ilmiah yang sahih.

Kapan dipakai

Terlihat saat angka yang terlalu persis seakan menjanjikan kepastian lebih daripada yang benar-benar didukung data.

Langkah / Komponen
  1. 1Informasi disajikan seolah lebih tepat daripada kenyataannya
  2. 2Ketelitiannya bisa jadi cuma tipuan yang dibungkus seolah ilmiah
  3. 3Tidak disusun dengan cara ilmiah yang sahih
Catatan / Contoh

Angka di belakang koma yang palsu, dipakai agar terkesan ilmiah.

Berat Sebelah (One-Sidedness)One-Sidedness

Pendapat berat sebelah hanya menyajikan bukti yang mendukung kesimpulannya. Ini keliru karena tidak ikut menimbang bukti yang melawan kesimpulan itu, sehingga gambarannya jadi menyimpang (misalnya hanya pandangan satu pengacara atau satu ahli tertentu).

Kapan dipakai

Terlihat saat hanya bukti yang menguatkan yang ditampilkan, sedangkan bukti yang berlawanan diabaikan.

Langkah / Komponen
  1. 1Hanya menyajikan bukti yang mendukung kesimpulan
  2. 2Menyembunyikan atau tidak ikut menimbang bukti yang berlawanan
Catatan / Contoh

Memilih-milih bukti — hanya yang menguntungkan pihak sendiri yang ditampilkan.

Evaluasi Sumber (Kapabilitas/Akses/Motivasi/Kekinian)Source Evaluation

Cara menimbang sebuah sumber informasi sebelum kita mempercayainya. Yang dinilai: kemampuannya (apakah ia cakap menyampaikan informasi dengan jelas), aksesnya (apakah ia benar-benar menyaksikan sendiri atau punya akses), niat dan kecondongannya (apa alasan yang bisa membuatnya memutarbalikkan informasi), kebaruannya (seberapa baru informasinya), serta rekam jejaknya selama ini.

Kapan dipakai

Dipakai tiap kali penelaah menerima informasi yang dilaporkan dan harus memutuskan seberapa besar bobotnya berdasar sumbernya, terlepas dari isinya.

Langkah / Komponen
  1. 1Kemampuan: seberapa cakap sumber menyampaikan informasi
  2. 2Akses: apakah ia menyaksikan sendiri; bagaimana dan kapan ia bersentuhan dengan informasi itu
  3. 3Niat dan kecondongan: apa yang ingin atau akan ia peroleh; alasan yang bisa membuatnya memutarbalikkan informasi
  4. 4Kebaruan: kapan kejadiannya berlangsung dan seberapa baru informasinya
  5. 5Kedekatan: sumber langsung (menyaksikan sendiri) dibanding sumber tidak langsung
  6. 6Rekam jejak: riwayat ketepatan dan keandalannya di masa lalu
Catatan / Contoh

Uji aksesnya: "Apakah sumber benar-benar paham apa yang ia lihat?" Bedakan sumber yang menyaksikan langsung dari yang hanya mendengar dari orang lain.

Penilaian Admiralty/NATO (Keandalan A–F & Kredibilitas 1–6)Admiralty / NATO Grading System

Sistem dua bagian untuk menilai setiap laporan. Bagian pertama menilai seberapa tepercaya sumbernya dengan huruf A sampai F: A=sepenuhnya tepercaya, B=biasanya tepercaya, C=cukup tepercaya, D=biasanya tidak tepercaya, E=tidak tepercaya, F=tak bisa dinilai. Bagian kedua menilai seberapa masuk akal isi informasinya dengan angka 1 sampai 6: 1=dibenarkan oleh sumber lain yang berdiri sendiri, 2=mungkin benar, 3=bisa jadi benar, 4=diragukan, 5=kecil kemungkinan benar, 6=tak bisa dinilai.

Kapan dipakai

Dipakai untuk menilai seberapa tepercaya sumber dan seberapa masuk akal isi tiap laporan, sekaligus menjaga kita agar tidak terpaku pada kesan pertama.

Langkah / Komponen
  1. 1Keterpercayaan sumber: A (sepenuhnya tepercaya) sampai F (tak bisa dinilai)
  2. 2Kemasukakalan informasi: 1 (sudah dibenarkan sumber lain) sampai 6 (tak bisa dinilai)
  3. 3Gabungkan keduanya menjadi satu nilai dua bagian (misalnya "A1")
Catatan / Contoh

A1 = nilai terbaik (sumber sepenuhnya tepercaya dan informasinya sudah dibenarkan sumber lain). Angka 6 berarti "tidak ada dasar untuk menilai".

Evaluasi Informasi vs Evaluasi SumberInformation vs Source Evaluation

Menimbang isi informasinya sendiri, terlepas dari siapa sumber yang menyampaikannya. Yang diuji: seberapa masuk akal (bandingkan dengan yang sudah diketahui), seberapa apa adanya (pisahkan perasaan, fakta, dan pendapat), seberapa tepat waktunya (kapan dibuat dan dilaporkan), seberapa cocok dengan sumber lain, dan seberapa lengkap (adakah yang hilang?). Sepanjang proses, selalu pertimbangkan kemungkinan adanya tipu daya.

Kapan dipakai

Dipakai bersama-sama dengan penilaian sumber, untuk menimbang isi laporan berdasar kelayakannya sendiri.

Langkah / Komponen
  1. 1Masuk akal: bandingkan dengan informasi lain; jangan ditolak hanya karena tak terduga
  2. 2Apa adanya: pisahkan perasaan, fakta, dan pendapat
  3. 3Tepat waktu: masih relevankah; kapan dibuat dan dilaporkan
  4. 4Cocok: bandingkan dengan sumber lain
  5. 5Lengkap: adakah yang hilang; waspadai pernyataan umum yang kabur
  6. 6Sepanjang proses: selalu pikirkan kemungkinan TIPU DAYA
Catatan / Contoh

Peringatan yang berulang: "Pikirkan kemungkinan tipu daya" dan "jangan menolak informasi hanya karena terasa tak terduga".

OSINT vs SOCMINT

OSINT (Open Source Intelligence) adalah hasil olahan dari informasi yang terbuka untuk umum. SOCMINT (Social Media Intelligence) mencakup informasi media sosial, baik yang terbuka untuk umum maupun yang bersifat pribadi, dan bisa dikumpulkan secara terang-terangan maupun diam-diam. SOCMINT terikat aturan dan syarat hukum serta pengaman tertentu, sering menuntut alat dan pelatihan khusus, dan hasilnya bisa berstatus sangat rahasia. Media sosial adalah sumber yang "membuat ketagihan" dan saling tumpang tindih dengan informasi dari orang (HUMINT), dari sadapan (SIGINT), dan dari citra (IMINT).

Kapan dipakai

Dipakai untuk memilah dan mengatur pengumpulan informasi dari media sosial — membedakan OSINT yang terbuka untuk umum dari SOCMINT yang lebih luas dan bisa menyentuh data pribadi.

Langkah / Komponen
  1. 1OSINT: hasil olahan dari informasi yang terbuka untuk umum
  2. 2SOCMINT: mencakup informasi media sosial yang terbuka maupun pribadi, dikumpulkan terang-terangan atau diam-diam
  3. 3SOCMINT: butuh pengaman hukum dan alat/pelatihan khusus, dan hasilnya bisa berstatus sangat rahasia
Catatan / Contoh

Tingkatan istilah dari penyelidikan sumber terbuka: OSIG -> OSI -> OSINT; tekankan "memanfaatkan jejak data tersembunyi" (metadata). Media lama menyebar "dari satu ke banyak orang", media sosial menyebar "dari banyak ke banyak orang".

Disinformasi vs MisinformasiDisinformation vs Misinformation

Pembedaan mendasar untuk menimbang isi media sosial. Disinformasi adalah pembuatan dan penyebaran informasi palsu yang jahat dan disengaja. Misinformasi adalah penyebaran informasi keliru yang terjadi tanpa sengaja. Keduanya berkaitan dengan upaya memengaruhi dari pihak asing, perang informasi, berita sela, pernyataan resmi pemerintah, dan propaganda.

Kapan dipakai

Dipakai saat menimbang seberapa tepercaya dan apa niat di balik informasi yang ditemukan di media sosial maupun media lama, sekaligus menilai upaya memengaruhi opini.

Langkah / Komponen
  1. 1Disinformasi: palsu, jahat, dan disengaja
  2. 2Misinformasi: keliru dan terjadi tanpa sengaja
Catatan / Contoh

Niat adalah garis pemisahnya: disinformasi = sengaja dan jahat; misinformasi = kebetulan dan tak sengaja.

Bias Kognitif (konsep dasar)Cognitive Bias (concept)

Bias kognitif adalah kecenderungan menyerap dan mengolah informasi dengan menyaringnya lewat suka, tidak suka, dan pengalaman pribadi. Hal ini bisa membuat informasi menjadi menyimpang, penilaian jadi meleset, tafsiran jadi tidak masuk akal, dan cara berpikir terlalu disederhanakan. Penyebabnya antara lain: jalan pintas berpikir ("aturan praktis"), cara mengolah informasi yang keliru, dan otak yang makin terbebani. Inilah alasan mengapa cara telaah yang tertata diperlukan.

Kapan dipakai

Menjadi alasan utama mengapa penelaah memakai cara dan kebiasaan kerja yang tertata — untuk mengenali dan melawan kesalahan penilaian yang berulang.

Langkah / Komponen
  1. 1Menyerap dan mengolah informasi yang sudah tersaring oleh diri sendiri
  2. 2Penyebab: jalan pintas berpikir atau aturan praktis
  3. 3Penyebab: cara mengolah informasi yang keliru
  4. 4Penyebab: otak yang makin terbebani
  5. 5Akibat: informasi menyimpang, penilaian meleset atau tidak masuk akal
Catatan / Contoh

Kecenderungan keliru ini makin besar seiring beratnya beban pikiran.

Logika dan Argumen (Premis, Kesimpulan, Inferensi)Logic and Argument

Pengertian dasar dari penalaran yang tertata. Logika adalah cara bernalar dan berpikir runtut untuk sampai pada jalan keluar terbaik. Argumen adalah serangkaian pernyataan, satu di antaranya menjadi kesimpulan dan sisanya menjadi pijakan awal yang dimaksudkan untuk mendukung kesimpulan itu. Penyimpulan adalah kaitan yang menghubungkan pijakan awal ke kesimpulan; kuat-lemahnya bergantung pada seberapa nyambung pijakan awalnya dan seberapa tepat cara menariknya.

Kapan dipakai

Menjadi landasan untuk menilai dan menyusun argumen telaah secara cermat.

Langkah / Komponen
  1. 1Pijakan awal: pernyataan yang dimaksud mendukung kesimpulan (bisa benar, bisa salah)
  2. 2Kesimpulan: pernyataan yang ditegaskan berdasar pijakan awal
  3. 3Penyimpulan: kaitan yang menghubungkan pijakan awal ke kesimpulan
Catatan / Contoh

Argumen = pijakan awal + kesimpulan (+ cara menyimpulkan). Penanda pijakan awal: karena, sebab, mengingat; penanda kesimpulan: maka, jadi, oleh karena itu.

Ketidakpastian (konsep dan tingkat keyakinan)Uncertainty (concept)

Ketidakpastian adalah keadaan yang belum diketahui secara pasti; masih meragukan, bisa berubah, dan bergantung pada kemungkinan. Buku panduan memandangnya sebagai bagian dari pekerjaan telaah yang memang tak terhindarkan, dan harus dikenali, dikelola, serta disampaikan apa adanya — bukan dipaksa hilang. Saat menyampaikan hasil, pedomannya tegas: jelas, ringkas, percaya diri — lalu ambil keputusan.

Kapan dipakai

Dipakai setiap kali menilai masalah saat informasinya belum lengkap, bermakna ganda, atau bisa berubah, untuk secara sadar mengakui apa yang belum diketahui.

Langkah / Komponen
  1. 1Penyebab: informasi yang kurang atau malah terlalu banyak, persoalan yang rumit, bahasa yang membingungkan, faktor untung-untungan, kesalahan pengukuran, dan hal yang tidak jelas
  2. 2Dalam pekerjaan telaah: keterpercayaan sumber, tipu daya, jeda waktu, kurangnya contoh dari masa lalu, dan kendala penyampaian
  3. 3Akibat: keputusan buruk, tidak bisa mengambil keputusan, dan tertundanya keputusan
  4. 4Cara menyampaikannya: rentang kesalahan pengukuran, pernyataan tingkat keyakinan, dan tingkat kemungkinan
Catatan / Contoh

Digambarkan lewat ucapan Donald Rumsfeld: "yang kita tahu bahwa kita tahu... yang kita tahu bahwa kita belum tahu... yang sama sekali tak kita sadari." Patokan mutu hasil: "cukup baik untuk pekerjaan dinas" = pas-guna, bukan asal jadi.